Wednesday, December 15, 2010

Smong dumek-dumek mo


“Engel mon sao surito. Inang maso semon manoknop sao fano. Unen ne alek linon, fesang bakat ne mali. Manoknop sao hampung tibo-tibo maawi. Ede smong kahane, turiang da nenekta. Miredem teher ere fesan nafi-nafi da:
Smong dumek-dumek mo.
Linon uwak-uwakmo.
Elaik keudang-keudang mo.
Kilek suluh-suluhmu.
Angalinon ne mali olek suruk sauli. Maheya mihawali fano me tenggi…”

Terjemahan:
“Dengarlah suatu kisah. Pada zaman dahulu kala tenggelam suatu desa. Ada gempa yang mengawali, disusul air yang surut. Tenggelamlah seluruh kampung secara tiba-tiba. Itulah smong namanya, kata nenek moyang kita. Ingatlah pesan dan nasihatnya ini:
Smong (tsunami) air mandimu.
Gempa ayunanmu.
Petir gendang-gendangmu.
Halilintar lampumu.
Jika datang gempa kuat disusul air yang surut, segeralah cari tempat dataran tinggi agar selamat…”

Para orang tua di pulau itu tak bosan-bosan melantunkan nafi-nafi (cerita lisan) tentang smong (tsunami) ketika mereka hendak menidurkan anaknya, makan, atau tengah berkumpul bersama keluarga maupun tetangga. Lirik yang berisikan nasihat mengalir begitu saja. Tidak ada ketentuan atau panduan dalam keseragaman menuturkan kata per katanya. Hingga kini, kisah smong masih mencengkeram kuat benak anak-anak Pulau Simeulue, salah satu kabupaten termuda di Aceh. (sumber: http://www.lenteratimur.com/)

Pada tsunami 2004, jumlah yang terkorban sangat sedikit, iaitu 6 (atau 7) orang, kebanyakannya orang tua yang tak mampu lari, sedangkan ia berada di ‘epicenter’ tsunami. Penduduk Pulau Simeulue mempunyai ‘Early Warning System’nya sendiri, berdasarkan pengalaman orang tua yang diturunkan melalui cerita dan pantun. Dikatakan Tsunami pertama kali melanda Simeulue pada 1833, dan kemudian datang lagi pada 1907. Lalu orang-orang tua mulai menceritakan kisah tersebut turun-temurun, supaya langkah berjaga-jaga dapat diambil.

No comments:

Post a Comment